Jadilah Pedagang

Jadilah pedagang ini jangan diartikan secara harfiah. Pedagang di sini bukan berarti harus buka kios lalu berdagang tapi pedagang dalam arti yang luas seperti pebisnis atau entrepreneur. Istilah kerennya pedagang intelektual.

Rasulullah SAW merupakan role model atau contoh terbaik pebisnis sukses. Allah-lah yang mendidiknya hingga akhirnya menjadi seorang entrepreneur tangguh. Jiwa enterpreneur beliau sudah diasah sejak usia kanak-kanak dengan menjadi penggembala.

Saat itu, penghasilan dari menggembala kambing orang-orang Mekah, beliau berikan untuk membantu beban hidup pamannya yang memiliki banyak tanggungan. Sifat mandirinya terus terasah saat usia beliau 12 tahun, dengan ikut pamannya berdagang ke Syam.

Saat menginjak dewasa, barulah beliau berdagang sendiri, meski dalam skala kecil karena beliau tidak ingin terus menerus membebani pamannya. Sebagai entrepreneur sejati, Rasulullah tidak pernah berkeluh kesah dengan masalah modal. Sifat jujur (shidiq) dan terpercaya (amin) membuat banyak saudagar menitipkan dagangannya kepada Rasulullah.

Semua barang titipan itu selalu habis terjual sehingga menguntungka si pemilik barang. Kesuksesan ini membuatnya makin dipercaya oleh banyak saudagar sehingga bisa dibilang modal bisnis Rasulullah SAW adalah diri beliau dan untanya. Beliau hanya menerima keuntungan sekedar untuk hidup sehari-hari. Beliau tidak pernah mengumpulkan harta. Setiap ada kelebihan keuntungan selalu beliau sedekahkan kepada orang miskin.

Kunci sukses Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak semata dari jenis barang yang dibawanya. Tapi beliau lebih mengedepankan akhlak yang mulia. Dengan akhlak yang sempurna, banyak pembeli menaruh kepercayaan sehingga tercipta networking bisnis yang kuat. Kejujuran dan sosialisasi yang baik ke pembeli juga menjadi kunci keberhasilannya yang lain.

Pembeli percaya bahwa barang yang dijual Rasulullah berkualitas baik dan harganya tidak dipermainkan. Kejujuran Rasulullah ini juga yang menjadikan Siti Khadijah, salah satu saudagar terkaya di Mekah, mengangkat beliau menjadi orang kepercayaan untuk menjalankan usahanya. Sampai akhirnya, Siti Khadijah jatuh hati kepada Rasulullah dan kemudian Siti Khadijah dilamar oleh Rasulullah.

Sejak itulah Rasulullah menjadi real entrepreneur karena usaha yang dijalankannya bukan milik orang lain lagi tapi istrinya. Salah satu hikmah yang dapat diteladani dari entrepreneur Rasulullah adalah ketika beliau berdagang, tujuan utamanya bukan mencari untung banyak tapi bagaimana barang dagangan yang dijual bisa bermanfaat bagi orang lain.

Selain itu saat mendapat untung Rasulullah memikirkan bagaimana keuntungannya itu menjadi kemaslahatan bagi orang lain. Untuk itu beliau selalu membagikan keuntungannya kepada orang-orang miskin sedangkan yang dibawa ke rumah hanya sebagian kecil untuk mencukupi kebutuhan hari itu.

Jadi entrepreneur yang dilakukan Rasulullah lebih banyak ditujukan untuk ibadah, melakukan kebaikan bagi orang lain. Berdagang memang cara cepat mendapatkan uang dibanding dengan karyawan. Karena transaksi dilakukan langsung antara penjual dan pembeli dan prosesnya cukup cepat.

Itulah sebabnya Rasulullah bersabda, “kalau mau kaya jadilah pedagang, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah lewat perdagangan.” Tapi jangan jadikan berdagang sebagai tujuan untuk mengumpulkan kekayaan. Ikutilah cara Rasulullah yang menjadikan berdagang sebagai kesempatan berbuat kebaikan kepada orang lain. Kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, harta yang kita peroleh dari berdagang kita gunakan lagi untuk ibadah di jalan Allah.

Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat. Ketika ada panggilan jihad, sahabat Abu Bakar Sidiq akan menyerahkan seluruh hartanya untuk membiayai jihad. Sedangkan Umar bin Khaththab menyerahkan setengah dari hartanya. Jangan sampai harta yang berlimpah membuat kita lalai dalam taat kepada Allah SWT seperti firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takaatsur: 1).

Justru harta yang baik harus kita belanjakan juga untuk kebaikan di jalan Allah. Dengan harta tersebut kita harus makin banyak beramal demi kemajuan agama Allah. Tapi bila kita menyalahgunakan harta tersebut selain di jalan Allah, harta tersebut akan menjadi bahan bakar kita di neraka

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka, dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.” (QS. Ali Imran: 10).

Kesuksesan seorang entrepreneur juga ditentukan oleh life skill dan wawasan yang luas. Allah SWT mendidik life skill Rasulullah sejak beliau kecil sehingga menjadi seorang yang matang dalam bertindak. Seiring waktu, wawasannya kian luas dengan cara belajar dari lingkungan sekitar.

Orang yang terasah life skill-Nya akan mudah mengambil keputusan yang tepat sesuai kondisi yang ada. Sementara wawasannya menjadi modal dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Orang yang berwawasan luas akan lebih mudah beradaptasi dengan orang lain sehingga mudah menjalin ikatan bisnis.

Seorang entrepreneur juga dituntut kreatif dan inovatif. Allah telah mengajarkan manusia bahwa Allah Mahakreatif. Dari seluruh ciptaan-Nya. Begitu juga seorang entrepreneur, harus kreatif dan inovatif dengan menciptakan sesuatu yang berbeda dan unik. Dan yang jelas, ciptaan tersebut harus bisa dijual di pasar.

Untuk itu seorang entrepreneur harus ditunjang dengan skill organisasi yang mumpuni untuk mengatur perusahaannya dalam menyelaraskan beberapa unit kerja menjadi satu kesatuan manajemen yang profesional. Ia harus mampu me-manage bisnisnya mulai dari awal produksi hingga ke pemasaran dan sistem keuangan. Tanpa itu, mustahil bisnisnya bisa maju dan berkembang.

Dengan pengalaman dan kemahiran mengorganisir perusahaan, resiko kerugian bisa ditekan seminimal mungkin sehingga menghasilkan pendapatan atau keuntungan perusahaan yang besar.

Tidak kalah penting, seorang entrepreneur harus mempunyai semangat untuk terus maju. Ia tidak boleh mudah menyerah saat menghadapi suatu kegagalan. Sabda Rasulullah yang menyuruh hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, harus dijadikan moto agar selalu bersemangat dalam mengelola bisnis.

Dalam mengelola bisnis juga harus berdoa kepada Allah agar bisnis yang kita jalankan membawa manfaat berkah dan keuntungan. Rasulullah telah mencontohkan bagaimana semangat beliau dalam berdagang.

Meski harus menempuh jarak yang sangat jauh, tapi beliau tidak pernah mengeluh. Beliau tetap berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pelanggan maupun saudagar yang telah menitipkan barang dagangannya. Kepercayaan yang telah diamanahkan kepada beliau tidak pernah dikhianati. Beliau selalu berusaha menjadi seorang entertainer yang melayani semua orang dengan sabar dan lemah lembut. Sifat ini pula yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur.

Maka jadilah seorang entrepreneur seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Entrepreneur sukses tidak harus selalu berbekal pendidikan tinggi. Rasulullah telah membuktikannya. Beliau tidak pernah sekolah tetapi beliau mau belajar dan bekerja keras. Yang terpenting, contohkan semangat beliau untuk maju, menjunjung tinggi harga diri, memegang teguh amanah, dan jujur dalam setiap perbuatan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Arti ayat diatas, kita sebagai umat Rasulullah SAW wajib mengikuti setiap perbuatan beliau, termasuk dalam perdagangan. Bila kita bekerja di perusahaan orang, kita harus tetap menjadi intrapreneur yang memiliki bargaining (posisi tawar) sesuai skill. Berusahalah agar dengan keberadaan kita di perusahaan tersebut bisa membuat perusahaan berkembang sehingga perusahaan menganggap kita sebagai aset, bukan hanya sebagai pekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *