Secara sederhana globalisasi bisa diartikan sebagai era kerjasama yang mendunia, baik itu dalam bidang perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, telekomunikasi, politik, hukum, dan bidang lainnya. Tentu ada yang pro dan kontra menyikapi era globalisasi ini.
Bagi mereka yang optimis tentu akan bersikap pro dan menganggap globalisasi sebagai suatu peluang, sedangkan mereka yang pesimis menjadikan globalisasi sebagai ancaman.
Sebenarnya, perilaku globalisasi sudah sejak dulu dilakukan. Sebagai contoh, perjalanan ketika Nabi Ibrahim AS membawa Siti Hajar dan anaknya Ismail dari Palestina ke sebuah lembah yang kini dikenal dengan Mekkah.
Contoh lain, perjalanan Rasulullah SAW berdagang dari Mekah ke negeri Syam juga bisa disebut globalisasi. Bedanya dengan globalisasi saat ini, karena proses informasi, telekomunikasi dan transportasi berjalan secara real time. Setiap kejadian di belahan penjuru dunia mana pun dapat diketahui secara langsung, hanya dalam hitungan detik lewat media elektronik seperti TV dan Internet.
Begitu juga dengan telekomunikasi. Orang bisa dengan mudah berkomunikasi meski berada di daerah terpencil lewat telepon. Kemudian dalam melakukan perjalanan antar negara, telah didukung dengan moda transportasi yang sangat cepat. Seseorang bisa melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain yang berada di benua lain menggunakan pesawat, hanya dalam hitungan jam. Bahkan manusia bisa melakukan perjalanan hingga ruang angkasa.
Percepatan globalisasi tidak hanya membawa kebaikan tapi juga berdampak negatif. Tindak kejahatan menjadi mudah diadopsi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penyebaran video porno misalnya, semakin marak lewat media internet. Informasi-informasi kejahatan seperti cara membobol kartu kredit maupun kartu ATM juga mudah diperoleh sehingga orang bisa mempelajarinya tanpa harus ikut kursus tertentu. Hanya dalam hitungan detik seseorang bisa mendapatkan banyak informasi yang selalu berganti dengan cepat.
Begitu juga dengan tingginya mobilitas manusia, berdampak pada cepatnya penyebaran penyakit. Misalnya, seseorang yang terkena virus flu burung dari Hongkong bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain di Indonesia dalam hitungan jam karena waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan ke Indonesia hanya sekitar 4,5 jam.
Jadi, dampak globalisasi telah membawa dinamika informasi, telekomunikasi dan transportasi bergerak sangat cepat. Hal inilah yang harus diantisipasi, khususnya oleh umat Islam. Kita harus mewaspadai informasi-informasi yang terjadi di dunia ini, yang akhirnya mungkin bisa mengubur informasi-informasi tentang Islam.
Berapa banyakkah orang Islam yang mengenal Nabi Muhammad SAW secara mendalam? Tapi, ketika ditanya tentang penyanyi maupun selebritas yang tengah viral, orang akan dengan gamblang menceritakan riwayat hidupnya secara detail.
Coba dibuat riset ringan mengenai hal mendasar yang seharusnya menjadi pemahaman bagi setiap muslim. Seperti apa artinya “Bismillahirahmanirahim”, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh”, atau lainnya. Bandingkan dengan pertanyaan mengenai pengetahuan umum seperti penyanyi populer mana yang tengah konser, pertandingan olahraga, atau lainnya. Bila pengetahuan mengenai agamanya sendiri terbatas, itu membuktikan kalau informasi dunia telah membenamkan informasi tentang Islam.
Bila kita memahami kondisi ini sebenarnya terbuka kesempatan untuk berjihad. Bukan jihad dengan kekerasan dalam arti perang, tapi juhad dengan pikiran keislaman. Coba buka website yang mengulas mengenai Agama Islam, akan lebih banyak website yang mengangkat isu-isu untuk memojokkan Islam.
Di sinilah terbuka ladang jihad di media informasi, jihad secara damai dengan mencurahkan pikiran-pikiran mengenai Agama Islam. Internet sebagai media bebas nilai harus dioptimalkan untuk sarana dakwah. Seperti halnya pisau, juga merupakan barang bebas nilai, tinggal tergantung siapa yang menggunakannya.
Ketika pisau tersebut digunakan untuk seorang juru masak akan berfungsi untuk memotong sayuran atau pun daging. Tapi, ketika pisau itu jatuh ke tangan penjahat maka fungsinya bisa membahayakan orang lain. Internet harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dan membangun kebesaran Islam.
Dibutuhkan penguasaan informasi supaya kitab isa menjawab setiap kritikan yang sangat mungkin menyudutkan Islam. Maka akan sangat baik bila setiap pesantren mengajarkan santri-santrinya tentang teknologi internet untuk dijadikan ladang dakwah. Dengan begitu dakwah yang dilakukan bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya.




