Sedekah bukan hanya mendapatkan pahala yang besar tapi ini juga merupakan aktivitas amal sosial yang dampaknya akan langsung dirasakan sejak di dunia, tanpa perlu menunggu balasan akhirat. Silakan diresapi, setiap orang tentu pernah mengalami dampak sedekah yang dirasakan langsung maupun tidak langsung.
Kita bisa belajar dari kisah orang lain seperti Djohari Zein, crazy rich mualaf yang dapat banyak untung usai bersedekah dan kisahnya menjadi sangat inspiratif. Djohari Zein menapaki dunia bisnis di tengah lilitan ekonomi di masa Orde Baru yang banyak membuahkan hasil.
Pria kelahiran Medan tahun 1954 dari kalangan pedagang Tionghoa itu berasal dari keluarga besar penganut Agama Budha. Pemilik layanan pengiriman paket JNE ini memiliki rahasia sukses dalam bisnis yaitu berbagi dan bersedekah baik untuk karyawan, melalui panti asuhan, dan lainnya. Kebahagiaan orang lain dinilai sebagai kebahagiaannya sendiri bagi Jo, sapaan akrabnya.
Tahun 2009 Jo memanjatkan doa di kala umroh dengan meminta dimudahkan untuk membangun sebuah masjid. Dari doa itu dirinya malah mendapat anugerah dengan bisa membangun 99 masjid hingga akhirnya menjadi visi besar bagi yayasan untuk terus membangun masjid di seluruh dunia.
Djohari meyakini kekuatan dahsyat dari sedekah sesuai dengan ajaran agama. Menyisihkan harta untuk disedekahkan nyatanya bisa membuat bahagia. Pelajaran juga diambil dari Surat Al-Maun, bagaimana kita harus berlaku dengan baik sesuai dengan ajaran agama dan agama bukan hanya ibadah seremonial tapi juga menyayangi anak yatim hingga memberi makan orang miskin.
Situasi ini juga dipraktikkan saat menjalani bisnis, bagaimanaa kita terus menyeimbangkan derajat sosial dengan komersial. Bisnis ataupun usaha dapat berjalan lancar dan panjang umur berkat sedekah dan berbagi sebagai bentuk sosial. Di dalam setiap kegiatan komersial perlu ada kegiatan sosial supaya yang kita lakukan menjadi berkah.
Kegiatan bisnis dalam praktiknya menitik-beratkan pada manajemen spiritual dan itu dilakukan sejak 29 tahun lalu dalam pengelolaan JNE. Sedekah dan ilmu spiritual sebagai landasan bisnis termasuk dukungan dari keluarga yang membuat lika-liku kehidupan khususnya dalam menapaki dunia bisnis menjadi ringan berkat sedekah.
Terlebih bagi Djohari yang memulai bisnis dalam situasi krisis moneter tapi bisa mengembangkan bisnis yang membantu banyak orang di saat banyak perusahaan melakukan PHK. Dari penghasilan awal yang kecil namun tetap konsisten menjaga sedekah semuanya bisa membuahkan hasil yang baik.
Ada lagi kisah inspiratif dari pemuda di Bantul yang membuat “Kroyokan Sedekah”. Pria bernama Joko Taruno, warga Kampung Prancak di Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta secara tampilannya sangat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya itu, pria ini bisa memproduksi makanan Songgobuwono bisa bersedekah di 33 masjid di Yogyakarta setiap hari Jumat hingga membuka warung gratis di rumahnya setiap Jumat.
Kisahnya bermula saat ia merasa cemburu dengan orang-orang yang bisa bersedekah banyak dan berpikir “sangu” yang dipersiapkannya untuk kelak di akhirat. Dari kegelisahan itu Joko bersama beberapa rekan terus mencari cara untuk bersedekah yang dimulai dari Masjid Abdul Kadir Nur Wahdaniyah dan Masjid Kampus ISI Bantul yang lokasinya dekat rumah untuk memulai aktivitas Kroyokan Sedekah.
Dari awalnya membuat sedikit makanan dan minuman untuk jemaah Shalat Jumat di dua masjid tersebut kemudian di-upload di media sosial yang akhirnya banyak yang merespon. Dari aktivitas itu ada banyak yang ikut menyumbang dan hingga saat ini terus berjalan tidak pernah absen dengan tiap satu masjid 100 porsi nasi dan roti.
Pegiat Kroyokan Sedekah juga terus meningkat khususnya setiap Jumat mulai jam 10.00, satu per satu warga dari berbagai lapisan mulai tukang becak, supir, hingga musafir mulai mengambil makanan ringan dan minuman untuk dibawa. Ada yang mengambil untuk konsumsi pribadi maupun diantar ke berbagai masjid yang berada di wilayah Gunungkidul, Bantul, Sleman, maupun Kota Yogyakarta.
Kroyokan Sedekah yang digagas Joko juga berkembang dengan memberikan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam seperti pada peristiwa banjir bandang Ponorogo dan Cilacap. Pegiat aktivitas ini juga terus bertambah hingga mencapai lebih dari 500 orang yang semuanya tidak mengharapkan imbalan apapun tapi pure ikut melakukan amal yang baik. Aktivitas ini memang ditujukan untuk menjadi gerakan spontan yang bisa menginspirasi semua orang berbuat baik pada sesama.
