Kalimat Lailahaillallah atau tiada Tuhan selain Allah, memiliki makna sangat tinggi. Tidak sah Islam seorang bila ia belum mengucapkan kalimat ini. Sejak jaman Nabi Adam hingga Rasulullah SAW, kalimat ini menjadi kunci diakuinya seseorang beriman kepada Allah.
Pada hakikatnya, tugas semua nabi dan rasul adalah menegakkan kalimat Lailahaillallah di tempat mereka diutus. Tapi tidak semua manusia yang mau mengikuti syahadat para nabi tersebut. Dan diantara umat-umat yang ingkar tersebut, tidak sedikit yang dibinasakan Allah.
Firman Allah: “Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan” (QS. Ath Thalaaq: 8).
Di dalam Al Qur’an disebutkan beberapa contoh negeri yang dibinasakan oleh Allah SWT. Diantaranya kaum Nabi Nuh AS, kaum Nabi Luth AS, kaum Nabi Ibrahim AS, kaum Tsamud di zaman Nabi Saleh AS, kaum Aad di masa Nabi Hud AS, dan penduduk Madyan kaumnya Nabi Syu’aib AS. Semua kaum tersebut tidak mau mengikuti seruan nabinya untuk mengikrarkan kalimat Lailahaillallah.
“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata. Maka, Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. At-Taubah: 70).
Tapi tidak semua kaum yang ingkar kemudian dihancurkan oleh Allah. Seperti kaum Yahudi yang hingga kini keturunannya dibiarkan oleh Allah menjadi musuh umat Rasulullah SAW hingga akhir zaman.
Namun kini setelah banyak manusia bersyahadat kepada Allah, banyak diantara mereka yang masih melakukan kemusyrikan. Mereka mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan, tapi mereka juga mempercayai hal berbau mistis lainnya.
Fenomena ini masih sering kita temukan di sekitar kita. Salah satu contohnya di Jawa. Masyarakat di sekitar pesisir pantai selatan masih mempercayai Nyi Loro Kidul yang diyakini sebagai penguasa laut selatan. Setiap tahun mereka melakukan upacara larung laut yang berisi sesembahan kepala kerbau dan bermacam makanan sesajen dengan harapan agar Nyi Loro Kidul memberikan ikan yang lebih banyak kepada para nelayan di sana.
Contoh lain, upacara penyucian keris keramat di Keraton setiap tanggal 1 Muharam atau mereka sebut 1 Suro-an, lalu airnya diminum karena diyakini membawa keberkahan.
Ritual-ritual seperti di atas termasuk dalam jenis thaghut, yaitu mengadakan penyembahan selain kepada Allah. Ini merupakan salah satu cara setan menyesatkan manusia. Padahal Allah telah melarang kita menyembah thaghut.
Firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’” (QS. An-Nahl: 36).
Ada bermacam-macam jenis thaghut baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Yang terlihat misalnya, menyembah manusia seperti Fir’aun dan Isa Almasih, menyembah pohon, matahari, bulan, gunung dan lainnya yang berwujud.
Sedangkan thaghut yang tidak terlihat seperti setan, jin, iblis, hawa nafsu, pemikiran, cinta, ideologi, hukum, dan lainnya. Penyembahan thaghut yang berwujud makhluk termasuk setan, jin, dan iblis masuk ke dalam jenis syirik besar (asyirkul akbar) dan orang yang melakukannya dimasukkan ke dalam golongan orang-orang kafir. Mereka akan benar-benar menjadi kafir setelah mereka mengganti keyakinan mereka kepada selain Allah.
Hal ini di firmankan Allah dalam surat An-Nisa: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS. An-Nisa: 116).
Maka kalimat tauhid Lailahaillallah tidak bisa disejajarkan dengan apa pun di dunia ini. Hanya Allah penguasa alam semesta, tempat bergantung seluruh makhluk hidup di muka bumi. Sandarkan seluruh permintaan hanya kepada Allah dan berhati-hatilah kepada perbuatan syirik.
