Penyakit Hati

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir” (QS. Al Bakarah: 264).

Maka berhati-hatilah dengan penyakit hati yang sering tidak kita sadari termasuk saat menjalankan ibadah. Sholat misalnya, orang yang riya tidak akan mendapat pahala sedikit pun. Maka cermati firman Allah: “Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya” (QS. AlMa’un: 4-6).

Takabur juga merupakan penyakit hati. Orang yang takabur akan menunjukkan tindakannya secara terang-terangan, baik dengan ucapan maupun dengan aksi. Misalkan, ia membuat jalan kampung maka ia akan mengatakan, “Ini jalan menjadi bagus karena saya. Kalau bukan saya yang ngurus bantuannya ke gubernur, nih jalan nggak akan dibangun.”

Rasulullah SAW memberikan definisi sifat takabur dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)

Di dalam Al Qur’an, dikisahkan beberapa contoh sikap takabur yang dilakukan oleh Fir’aun:
“Dan berkata Fir’aun, ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka, bakarlah hai Haman untukku tanah liat (batu bata), kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta” (QS. Al Qashah: 38).

Sikap takabur Fir’aun ini melebihi dari kesombongan Iblis. Sesombong-sombongnya Iblis, tapi ia masih mengakui Allah sebagai Tuhan. Sedangkan Fir’aun tidak mau mengakui Allah, tapi justru menganggap dirinya sebagai Tuhan sehingga Allah melaknatnya di dunia dan di akhirat.

Jangan sampai kita terkena penyakit hati seperti ini. Cara menghindarinya, perbanyaklah membaca istighfar untuk memohon ampun kepada Allah atas segala dosa-dosa kita. Istighfar merupakan bentuk pengakuan kita sebagai makhluk lemah yang selalu berdosa sekaligus wujud penyerahan diri kita kepada Allah.

Tanamkan di hati kita bahwa apa yang kita peroleh adalah karena pertolongan dan izin Allah. Kita tidak bisa berbuat apa pun, tanpa bantuan Allah. Sebab, pada dasarnya manusia ini ibarat buah catur, yang hanya bergerak bila digerakkan oleh pemainnya. Jadi, apa pun yang kita peroleh bukan karena usaha kita tapi karena kehendak dan izin Allah.

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Maidah: 120).

Dan Allah sangat benci dengan orang-orang yang sombong. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18).

Rasulullah SAW bersabda: Dari Al-Aghar, dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku maka Aku akan menyiksanya” (HR. Muslim).

Maka introspeksi harus terus dilakukan dan resapi berbagai kenikmatan maupun kemudahan yang kita peroleh. Harta yang kita peroleh hakikatnya adalah ujian sehingga ketika kita mendapatkan kesenangan janganlah merasa bangga. Semua itu hanyalah rekayasa dan izin Allah. Janganlah kita mengatakan diri kita sudah hebat padahal semua itu adalah semata-mata hanya karunia Allah, bukan kehebatan kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *