Informasi yang mudah diakses melalui gadget di tangan telah membudahkan banyak hal, termasuk berbagai pilihan investasi. Generasi muda sekarang khususnya milenial dan Gen Z bisa mengakses apapun dan mengetahui banyak hal dari perkembangan teknologi informasi (TI).
Itu juga yang membuat banyak anak muda mulai melek investasi khususnya untuk perencanaan jangka panjang, mempersiapkan usaha sendiri, hingga untuk tabungan. Investasi harus masuk ke dalam perencanaan finansial dan disiapkan sedari dini termasuk terus mempelajari berbagai skema investasi yang tepat dengan selera maupun karakteristik finansial kita.
Satu hal yang harus menjadi patokan, investasi yang dipilih jangan yang mengandung unsur ribawi. Ada banyak pilihan investasi yang sesuai syariah atau halal dalam pandangan Agama Islam dan tetap menguntungkan dengan skema yang berkeadilan dan membuat nyaman berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.
Pembahasan mengenai investasi ini penting karena perkembangannya juga sangat menarik dan banyak yang menggoda. Dengan perkembangan TI yang pesat membuat berbagai investasi itu juga makin mudah diakses melalui gadget di tangan. Bahkan, ada bisnis atau investasi yang sepenuhnya berbasis TI yang disebut financial technology (fintech).
Kalau masih banyak anak muda yang belum sempat berinvestasi, di sisi lain ada banyak juga kalangan profesional muda yang bekerja di dunia investasi seperti bursa efek, perusahaan sekuritas, perusahaan investasi, manajemen investasi, dan lainnya.
Para profesional itu mengelola dan mengontrol investasi pemilik uang dalam saham dan surat berharga lain yang diterbitkan sebuah institusi atau perusahaan dan atas jasanya mendapatkan fee. Karena makin meriahnya dunia investasi itu, para pebisnis pun berlomba melepas dan mencatatkan saham perusahaannya di bursa efek (go public), guna mendapatkan dana murah untuk pengembangan bisnisnya. Dengan melepas saham di bursa efek, status perusahaannya pun berubah menjadi perusahaan publik alias terbuka (Tbk).
Tentu saja perlu perjuangan bagi sebuah perusahaan untuk bisa go public. Selain bentuk perusahaan harus perseroan atau PT, ada batas waktu lamanya perusahaan beroperasi sampai bisa dinyatakan tbk. Perusahaan kecil seperti UMKM (usaha mikro kecil menengah) yang ingin go public harus beroperasi minimal 12 bulan dan total asetnya minimal Rp5 miliar. Sedangkan perusahaan besar harus sudah beroperasi minimal 36 bulan dengan total aset paling sedikit Rp100 miliar.
Syarat lain, perusahaan yang hendak go public harus merapikan laporan keuangannya dan diaudit akuntan publik yang terdaftar di pasar modal. Dengan demikian publik bisa menilai, apakah saham perusahaannya memang menguntungkan sebagai investasi atau tidak.
Bagi investor, membeli saham perusahaan yang go public berpotensi memberikan dua keuntungan. Pertama berupa pembagian keuntungan dari laba perusahaan setiap tahun berupa deviden dan kedua keuntungan berupa kenaikan nilai saham bila perusahaan yang go public itu berkembang bagus. Karena itu berinvestasi dalam surat berharga seperti saham menjadi menarik bagi pemilik uang yang ingin mendapatkan passive income.
Tentu masih ada begitu banyak pilihan investasi yang menarik dan menguntungkan. Sekali lagi, pastikan investasi yang kita pilih selaras dengan ajaran Islam, pelajari juga berbagai skema investasi baru khususnya dari perbankan maupun bisnis syariah. Pahamkan juga kalau investasi jangan dibatasi pada urusan duniawi tapi juga berdimensi ukrawi.
Pastikan dalam berinvestasi diniatkan sebagai sarana untuk membentu sebuah bisnis agar dijalankan sesuai dengan syariah. Instrumen investasi yang kita bangun juga harus menjadi sarana membangun aset yang berdimensi akhirat.
“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa kepadanya” (HR Muslim). Dari hadis ini menyiratkan kalau Islam menawarkan sesuatu yang berbeda.
Maka keseluruhan amal kita harus diarahkan berdimensi akhirat dan ini sudah ada dasarnya dalam Agama Islam kendati belum banyak digali. Harus terus dikaji berbagai aspek jariyah dari hadis tersebut supaya kita bisa menjadi investor yang bukan hanya menerima kesenangan duniawi dari sebuah investasi tapi juga ganjaran akhirat tanpa terputus.
