Abu Bakar Ash Shiddiq merupakan sahabat mulia Rasulullah SAW yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad. Abu Bakar juga merupakan kalangan awal yang memeluk Islam yang menjadikannya orang yang sangat mulia. Bukan sekadar sahabat, Abu Bakar juga merupakan mertua Nabi Muhammad karena Aisyah RA adalah anaknya.
Bisa dikatakana hidup sahabat mulia ini dihabiskan untuk menemani perjuangan Rasulullah. Abu Bakar juga yang menemani Nabi Muhammad hijrah melalui perjalanan berbahaya dari Mekah ke Madinah, dia juga yang ikut dikepung di Gua Tsur (Jabal Tsur) bersama nabi hingga kakinya digigit hewan gua.
Setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, seluruh sahabat membaiatnya sebagai khalifah pertama yang menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad terkait berbagai masalah negara maupun keumatan. Ada banyak kisah teladan kebaikan Abu Bakar saat menjadi sahabat maupun khalifah, salah satunya ia tak segan memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam.
Ada banyak yang bisa diteladani dari kebaikan sahabat mulia ini. Selain Abu Bakar, ada juga Umar bin Khattab yang pada masa itu kerap “bersaing” dalam hal melakukan kebaikan. Mereka berlomba untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan meraih pahala besar di akhirat.
Ada masa Umar bin Khattab mengawasi apa saja yang dilakukan oleh sahabatnya Abu Bakar, khususnya pada hal-hal yang dia tidak ketahuinya. Umar kerap “cemburu” amalan apa yang dilakukan Abu Bakar sehingga Rasulullah begitu mencintai sosok ini. “Kecemburuan” itu membawa Umar mengikuti sahabatnya saat selesai melakukan sholat subuh di masjid.
Abu Bakar yang tidak mengetahui kalau dirinya diikuti, berjalan ke pinggiran Kota Madinah mendatangi sebuah gubuk yang kecil. Dalam pengamatan Umar, Abu Bakar menyelesaikan urusannya beberapa waktu yang oleh Umar, setelah Abu Bakar keluar, dimasuki untuk bertanya kepada pemilik gubuk.
“Apa yang dilakukan pria tadi di rumahmu?” tanya Umar. Sebelumnya, Umar kaget mendapati penghuni rumah adalah seorang perempuan tua yang terbaring lumpuh dan buta matanya. Perempuan tua itupun memberikan jawaban pertanyaan Umar.
“Demi Allah, aku tidak mengenal orang itu. Setiap hari di jam ini dia datang, membersihkan rumahku, menyapu, dan meniapkan makanan untukku. Setelah semuanya selesai, dia pergi tanpa berbicara apapun denganku,” katanya.
Mendengar jawaban itu Umar menangis karena terharu dengan kebaikkan sahabat dan kecintaan Rasulullah. Dalam berbagai kisah lain disebut Umar berkata: kebaikan seperti yang dilakukan Abu Bakar seperti ini akan sulit diikuti oleh orang lain. Padahal Abu Bakar seorang khalifah, Umar pun mengakui keunggulan budi pekerti sahabatnya.
Kisah kebaikan sahabat tentunya bisa menjadi refleksi bagi kita. Berlomba berbuat baik bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Terlebih Allah berfirman dalam QS Az Zalzalah: 7-8: Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
