Dari kacamata agama, Allah menyimpan air di beberapa tempat seperti di dalam tanah, di atas langit (awan), mata air, dan lainnya. Maka dari itu bila dibor air akan memancar keluar, ada yang bersentuhan dengan panas bumi yang membuat air menjadi hangat.
Nah, bila berbagai sumber air ini dikeluarkan maka terjadilah bencana banjir. Contoh nyatanya adalah saat zaman Nabi Nuh, Allah memerintahkan seluruh air keluar dan saat diperintahkan kembali ke tempatnya masing-masing maka surutlah banjir itu.
Al Qur’an memuat banyak ayat mengenai proses air maupun hujan. Ada kisah mengenai prosesnya, bagaimana hujan menumbuhkan pepohonan, air yang bergerak membawa biji-bijian maupun debu, dan lainnya. Singkatnya, air itu merupakan rahmat dari Allah yang bisa menghidupkan tanah mati maupun tandus.
Bisa dilihat bagaimana manusia bisa hidup di area yang tandus tapi Allah membukakan rahmat-Nya. Ini merupakan petunjuk, bagaimana Allah menyimpan air dan bila kita bersyukur maka Allah akan mengeluarkan air tersebut.
“Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)”. (QS Az Zukhuf: 11).
“Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kami. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu”. (QS An Nahl: 10).
Air juga merupakan tentaranya Allah, maka itu laut bisa menjadi tsunami. Maka miss-management terhadap air, tanah, atau lainnya bisa dilihat dari aktivitas manusia membangun yang pasti ada yang dikorbankan.
Ambil batu dengan memahat gunung, mengambil kayu dengan menebang pohon, yang semuanya tidak diganti atau diperbaiki. Maka tidak heran kalau terjadi kerusakan karena setiap membangun dengan landasan kerakusan pasti akan ada yang dilukai.
Allah telah mengajari tanah untuk menguraikan tubuh-tubuh yang mati maupun berbagai proses alami lainnya. Maka hujan juga merupakan fenomena alam yang memegang peran penting dalam siklus kehidupan di bumi, bukan sekadar air jatuh ke tanah tapi hujan disebut sebagai keindahan, kebijaksanaan, hingga rahmat-Nya.
“Allah-lah yang mengirim angin, lalu angin menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gunpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira”. (QS Ar Rum: 48).
“Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan). Maka Kami menurunkan hujan dari langit lalu memberinya minum dengan (air) itu, sedangkan kamu bukanlah orang-orang yang menyimpannya”. (QS Al Hijr: 22).
“Dia telah menurunkan air dari langit lalu mengalirkan air itu di lembah-lembah sesuai dengan ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buih seperti (buiih arus) itu. Demikian Allah membuat perumpamaan tentang hak dan batil. Buih akan hilang tidak berguna sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di dalam buh. Demikianlah Allah membuat perumpamaan”. (QS Ar Ra’d: 17).
