Beda Pendapat

Kita bisa melihat bagaimana umat Islam kerap berpecah belah yang diakibatkan oleh berbagai hal termasuk sekadar berbeda pendapat. Padahal berbeda pendapat merupakan hal yang lumrah dan karenanya tidak boleh menjadi perpecahan di antara kita khususnya umat Islam.

Bahasa merupakan serangkaian bunyi dengan makna-makna tertentu yang membuat kita memiliki identitas dan dapat berkomunikasi antar sesama. Dengan adanya ilmu pengetahuan munculah perbedaan pendapat dan ini baik karena perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah.

Beda pendapat sendiri merupakan keniscayaan dan sunatullah. Allah dalam beberapa ayat Al Qur’an menyebut perbedaan pendapat sebagai rahmat. “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Ali Imron: 105).

Kalau Allah telah menyebut perbedaan pendapat adalah rahmat, itu menjadi sesuatu yang harus dihadapi. Hanya saja perbedaan pendapat yang dimaksud tentu menjadi ranahnya “otak”, atau dengan kata lain perbedaan pendapat di antara ilmuwan (orang yang berpikir) merupakan rahmat dan hindari perbedaan pendapat di antara orang bodoh supaya tidak menjadi “pepesan kosong”.

Diantara kalangan ilmuwan perbedaan pendapat merupakan keniscayaan. Dengan berbeda pendapat itu dihasilkan begitu banyak ilmu maupun produk yang berbeda-produk bisa bermacam-macam disesuaikan dengan kebutuhan-merupakan hasil beda pendapat. Beda pendapat memang sudah seharusnya terjadi.

Dengan beda pendapat setiap orang akan bisa mengambil angle yang lain untuk satu hal yang sama sehingga bisa mendatangkan perbedaan maupun value yang lebih bernilai. Beda pendapat membuat ada lebih banyak passion maupun warna yang bisa dinikmati hingga beda pendapat yang akan terus membangun peradaban umat.

Maka kalau perintah agama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, maka berlomba-lombalah dalam berbeda pendapat. Sama-sama kebaikan, maka berbeda pendapat itu baik dan berdebatlah untuk memperkaya khazanah kita.

Dalam berbeda pendapat yang menghasilkan perdebatan tentu akan muncul perbedaan dan ini hal yang biasa. Hanya saja sikap yang buruk membuat perbedaan ini berkembang menjadi permusuhan. Kalau tadi disebut beda pendapat merupakan ranah otak, saat beda pendapat yang berujung pada permusuhan menjadi ranah hati.

“Mereka tidak berpecah-belah kecuali telah datang kepada mereka pengetahuan mengenai kenbenaran yang disampaikan oleh para nabi, karena kedengkian antar sesama mereka. Seandainya tidak karena suatu ketetapan yang telah lebih dulu ada dari Tuhanmu (untuk mengangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pastilah hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab suci (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Nabi Muhammad) benar-benar berada dalam keraguan yang mendalam tentangnya (Al Qur’an) itu (QS Asy Syura: 14).

Maka saat terjadi perpecahan itu karena ada kedengkian dan ini menjadi masalah hati dan itulah yang menyebabkan perpecahan. Perbedaan pendapat bukan perpecahan dan seharusnya menghasilkan suatu kebaikan. Sejatinya, perbedaan pendapat itu menghasilkan kebaikan dan akan memperkaya peradaban.

Maka perbedaan pendapat yang berakhir dengan kedengkian dan perpecahan akan menghentikan peradaban. Perbedaan pendapat yang merupakan suatu keniscayaan dengan sendirinya menjadikan perpecahan suatu kerugian dan kenistaan yang akan membuat kita sebagai umat menjadi lemah.

Harus disadari dan diakui, narasi mengenai beda pendapat cenderung menjadi suatu yang negatif sehingga seperti dihindari. Orang yang enggan berbeda pendapat merasa seperti menjadi orang yang mengalah dan itu artinya kebaikan.

Bahkan saat dulu anak-anak kecil yang belajar di sekolah dasar dan diaktifkan oleh guru untuk bertanya, cenderung diam saja. Saat ada salah satu yang mengangkat tangan untuk menjawab, teman-teman satu kelas akan menyorakinya, ini menjadi salah satu kampanye yang akhirnya melemahkan nalar kita. Berbeda pendapat sangat sulit untuk berkembang menjadi sebuah tradisi.

Maka ranah akal dan ranah hati ini harus ditonjolkan. Setiap manusia ada tubuh dan jiwanya, tubuh ini bergantung jiwa yang menggerakkan dan mengaktifkan organ gerak maupun organ pikirnya yang semuanya merupakan rahmat Allah SWT. Olah pikir yang merupakan kerja otak membuat pergerakan manusia dan membangun peradaban.

Maka sangat penting untuk berdebat, harus terus dibudayakan, biasakan mengajukan pertanyaan, nyatakan pendapat, diskusi dua arah. Apapun yang dikomentari lawan bicara harus dihargai dan tidak boleh dicela maupun direndahkan. Setiap orang harus senang dengan pertanyaan dan perdebatan. Akal pikiran harus dilatih, diskusi harus jadi kebiasaan, dan kita harus mampu menggali dari berbagai aspek untuk mengoptimalkan kerja otak.

Imam Al Ajurri dalam Kitab Asy-Syari’ah telah mengingatkan: dalam kehidupan ini bisa kiita temui perpecahan yang terjadi di kalangan orang-orang berilmu disebabkan karena rasa dengki dan sikap berlebihan yang melanggar aturan Allah. Hasad karena saudaranya lebih matang ilmunya, lebih banyak hartanya, lebih dihormati, yang membuat mereka saling menjatuhkan satu sama lain dan terjadilah perpecahan.

Masih di kitab yang sama yang kemudian mengingatkan: tidak ada yang salah dari ilmu, manusialah yang salah. Kalau bukan karena rasa hasad tentu ilmu yang mereka bawa akan mempersatukan mereka dan umat.

Kita sebagai Bangsa Indonesia memiliki khazanah terkait perbedaan itu suatu keniscayaan yaitu, “kepala boleh sama hitam, tapi pendapat boleh berbeda”. Ayo terus mengaktifkan otak untuk berpikir yang akan mendorong berbeda pendapat. Beda pendapat bagian dari mengaktifkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *