Dalam Al Qur’an dan hadits, pembahasan mengenai bencana tidak dihadirkan untuk menakut-nakuti tetapi untuk membimbing manusia agar lebih bijak menghadapi kenyataan hidup. Pada setiap musibah, Allah selalu menyimpan hikmah baik yang terlihat maupun yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang mau berpikir.
Peringatan Allah tentang bencana merupakan pesan yang mengajak manusia untuk merenungi perjalanan hidup, memahami makna ujian, dan kembali mendekat kepada-Nya. “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Ketika berbicara mengenai peringatan Allah tentang bencana, Al Qur’an menempatkan bencana sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya. Dalam QS. Al-An’am ayat 65, Allah menjelaskan bahwa Dia mampu mendatangkan azab dari atas, dari bawah, atau memecah belah manusia menjadi kelompok-kelompok. Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia sepenuhnya berada dalam kendali Allah. Tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak” (HR. Tirmidzi no. 2396).
Sebagai manusia, kita perlu menyadari bahwa kekuatan dan kemampuan manusia sangat terbatas. Rumah yang kokoh bisa runtuh dalam hitungan detik, tanah yang diam bisa tiba-tiba bergerak, dan laut yang tenang bisa berubah menjadi gelombang besar. Semua fenomena ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup hanya mengandalkan dirinya sendiri. Kesadaran ini menjadi titik awal seseorang untuk memperdalam ketakwaan dan kembali menjadikan Allah sebagai tempat bersandar.
Selain menunjukkan kekuasaan-Nya, peringatan Allah tentang bencana juga hadir sebagai ujian keimanan. Dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155 Allah berfirman, “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,”
Ayat di atas menegaskan bahwa musibah adalah bagian dari perjalanan hidup seorang mukmin. Tanpa ujian, perjalanan iman tidak akan sempurna. Ketika seseorang menghadapi bencana, ia berhadapan dengan situasi yang mengguncang banyak aspek kehidupan. Kehilangan rumah, keluarga yang terluka, bahkan hilangnya mata pencaharian untuk menafkahi diri dan keluarga. Dalam kondisi seperti ini, bersabar dan bertawakal kepada Allah adalah satu-satunya pilihan yang harus dijalani. Sabar tidak berarti diam, tetapi tetap teguh menjalankan kewajiban. Menjaga hati dari keputusasaan dan terus berusaha mencari jalan keluar yang diridhai Allah. Musibah atau bencana yang Allah berikan bukanlah tanda kebencian, melainkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering kali terlena dengan rutinitas. Namun ketika bencana datang, ia menggetarkan batin dan membuka ruang untuk introspeksi. Inilah salah satu makna peringatan Allah tentang bencana. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
“Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apapun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. An-Nisa ayat 79).
Pada kedua ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa bencana merupakan bagian dari sunnatullah. Yaitu hukum sebab-akibat yang berlaku secara konsisten dan menjadi bagian dari perjalanan manusia di dunia. Ayat tersebut mengingatkan bahwa sebagian kerusakan di bumi adalah akibat tindakan manusia sendiri. Seperti penggundulan hutan, pencemaran lingkungan, atau penggunaan sumber daya secara berlebihan. Ketika kerusakan ini berujung pada musibah, Al Qur’an mengarahkan manusia untuk memperbaiki perilaku dan lebih bertanggung jawab terhadap amanah bumi.
Bencana juga dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk merenungi kembali arah kehidupan. Dengan memahami peringatan ini dapat membantu kita untuk belajar mengenai keteguhan hati, dan juga belajar tentang kasih sayang Allah yang selalu mengajak hamba-Nya menuju kebaikan.
Bencana bukan hanya ujian bagi korban tetapi juga ujian bagi mereka yang tidak terkena dampaknya. Di sinilah peringatan Allah tentang bencana juga memiliki fungsi sosial. Ketika melihat saudara-saudara yang kehilangan rumah atau keluarga, hati seharusnya terpanggil untuk membantu. Musibah yang menimpa sebagian manusia menjadi pengingat bagi yang lainnya untuk memperkuat solidaritas.
Dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara dan diperintahkan untuk saling mendamaikan dan membantu. Ayat ini menjadi penegasan bahwa menjaga persaudaraan bukan hanya dalam keadaan lapang tetapi juga dalam keadaan sempit. Ketika bencana datang, ukhuwah diuji dalam bentuk yang paling nyata.
Dalam kitab Al-Baqiyatus Shalihat karya Rabi’ Abdul Rauf Az-Zawawi dijelaskan bahwa kasih sayang antar sesama muslim diibaratkan seperti persatuan dalam satu tubuh. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan sesama kaum mukminin dalam menjaga hubungan kasih sayang dan kebersamaan seperti satu tubuh, jika satu anggota merasakan sakit, maka akan membuat seluruh tubuhnya terjaga dan merasakan demam” (HR Muslim No. 2586).
Hadits di atas memberikan pemahaman secara tidak langsung bahwa bencana bukan hanya musibah bagi korban tetapi juga panggilan hati bagi setiap muslim untuk hadir membawa kebaikan.
Peringatan Allah tentang Bencana sebagai jalan untuk menguatkan hubungan dengan-Nya.
Dalam banyak pengalaman manusia, kedekatan dengan Allah seringkali justru tumbuh dalam masa-masa sulit. Inilah dimensi lain dari peringatan Allah tentang bencana. Ketika semua sandaran dunia runtuh, seseorang akan kembali menyadari bahwa satu-satunya tempat bergantung hanyalah Allah. Sebab, kekuatan utama seorang hamba bukan terletak pada harta atau jabatan tetapi pada keteguhan hati dalam bersandar kepada Tuhannya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 69 bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan-Nya akan diberikan petunjuk oleh Allah. Ayat ini memberi harapan bahwa setiap kesulitan dapat menjadi jalan untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Ketika seseorang menghadapi bencana dengan hati yang sabar dan penuh harap, Allah tidak akan membiarkan usaha tersebut sia-sia.
Rasulullah saw. juga memberikan doa khusus untuk menghadapi musibah: “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu membaca: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, kecuali Allah akan memberikan pahala dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa bencana bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari kesempatan untuk mendapatkan kebaikan yang lebih besar dari Allah.
Dengan memahami peringatan Allah tentang bencana, kita belajar melihat musibah dengan lebih jernih dan bermakna. Bencana adalah pesan yang membawa manusia kepada kesadaran baru: bahwa dunia ini fana, bahwa kekuatan kita terbatas, bahwa hubungan dengan sesama penting, dan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Melalui ayat-ayat Al Qur’an dan sabda Rasulullah saw., kita diajak untuk menghadapi bencana bukan dengan ketakutan tetapi dengan kebijaksanaan, keteguhan, dan empati.
Semoga setiap peringatan Allah tentang bencana menjadi pelajaran yang menuntun kita untuk hidup lebih baik, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah. Semoga pula setiap musibah yang terjadi menjadi jalan bagi kita untuk memperkuat iman dan menemukan kembali makna hidup di tengah ujian. Aamiin.
