Generasi Muda

Indonesia disebut sebagai negara yang akan mengalami bonus demografi. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 255 juta membuat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia dan bonus demografi karena mayoritas penduduknya merupakan generasi muda produktif.

Tentu bonus demografi akan menjadi berkah bila angkatan kerja produktif yang mendominasi jumlah penduduk itu bisa terserap pada pasar kerja secara baik. Sebaliknya, bonus demografi bisa menjadi bencana demografi jika angkatan kerja tidak terserap pasar kerja dengan baik.

Dengan kekuatan generasi milenial dan Gen Z yang melimpah di tahun-tahun mendatang, sangat bisa membuat kita bangkit sebagai bangsa. Kebangkitan yang kita inginkan tentu kebangkitan yang berkualitas yang artinya generasi muda harus memiliki wawasan keIslaman yang baik supaya memiliki integritas yang kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang buruk.

Generasi muda berintegritas dengan pemahaman agama yang baik juga supaya generasi muda memiliki kesadaran peradaban dan memiliki kemampuan untuk berjihad dengan ilmu maupun hartanya. Jika hal ini bisa dicapai maka cita-cita hadirnya peradaban Islam yang mulai pasti bisa terwujud.

Mari kita simak hadis: Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti halnya orang-orang yang menyerbu makaman di atas piring. Seseorang berkata, apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda, bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya, apakah wahn itu? Beliau menjawab, cinta dunia dan takut mati (HR Ahmad, Al Baihaqi, Abu Dawud).

Hadis di atas sangat menarik perhatian khususnya pada kata “nyaris”. Secara bahasa, nyaris artinya tidak atau belum kejadian. Nyaris miskin artinya tidak jadi miskin begitu juga dengan nyaris kaya yang artinya tidak jadi kaya. Begitulah tafsir yang bisa ditangkap dari hadis tersebut yang membuat kita tetap optimistis kalau wajah umat Islam tidak akan seperti yang digambarkan dan karena masih ada orang-orang yang konsisten berjuang di jalan Allah.

Tapi di sisi lain bila melihat realitas di sekitar, ada kalanya penyakit cinta akan dunia dan takut mati masih merasuk di jiwa-jiwa kita. Ini terlihat dengan adanya perpecahan dan konflik di dalam tubuh umat Islam sehingga mengecilkan umat itu sendiri. Umat Islam sering kali disibukkan dengan pertengkaran antar sesama saudara muslim.

Mungkin saja apa yang menimpa umat ini merupakan ujian agar kita menjadi umat terbaik seperti zaman rasul dan sahabat. Bukankah Rasulullah SAW, dinukil dari HR Tirmizi dan Ibnu Majah berpesan, bahwa seorang hamba akan diuji sebanding dengan kualitas agamanya.

Apabila agamanya begitu kuat maka semakin berat pula ujiannya dan sebaliknya jika agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa. Beragam problematika umat memang masih mengadang baik di tingkat glolab maupun lokal dan itu menggambarkan potret problematika umat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *