Ibadah

Inti dari sebuah ibadah adalah memberikan pelayanan secara vertikal, yaitu kepada Allah dan horizontal berupa pelayanan kepada sesama manusia. Secara vertikal, ibadah juga bisa diartikan sebagai penghambatan diri kita kepada Allah semata-mata untuk mencari rida-Nya.

Hasil dari ibadah vertikal inilah yang kemudian kita implementasikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk kehidupan bersosial. Di dalam Islam hal-hal yang termasuk ibadah sangat luas namun yang menjadi ibadah mahdhah atau ibadah utama seperti yang disebutkan dalam rukun Islam, yakni sholat, puasa, zakat, dan haji. Dan semua ibadah tersebut harus kita lakukan semata-mata mencari ridho Allah, bukan selain dari-Nya.

Secara singkat, ibadah mahdhah adalah ibadah dalam arti sempit yaitu aktivitas atau perbuatan yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya. Namun dari ibadah mahdhah ini implementasinya bisa menjadi luas ke berbagai lingkup sosial-kemasyarakatan.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am: 162-163).

Sebenarnya, semua ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, lalu kita kerjakan dengan ikhlas sesuai aturan-aturan yang telah ditentukan, pasti akan memberikan kebaikan kepada kita. Misalkan sholat, Allah perintahkan agar kita tidak menjadi orang-orang yang berbuat keji dan mungkar. Allah berfirman: “Dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45).

Meskipun sebenarnya masih banyak kebaikan-kebaikan yang diberikan Allah dalam sholat namun tujuan akhir yang ingin dicapai dengan sholat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Kemudian Allah perintahkan kita berpuasa, mempunyai tujuan akhir agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa yang hanya patuh kepada Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Selain takwa, berpuasa memberikan kebaikan lain bagi yang melakukannya yaitu kesehatan jasmani. Setelah puasa, Allah memerintahkan kita untuk berzakat. Tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa dan harta kita agar kita terbebas dari sifat kikir.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (dari kekikiran) dan mensucikan (hati) mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Lalu Allah juga memerintahkan manusia untuk pergi haji ke Baitullah bagi yang telah mampu. “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) makam Ibrahim. Barang siapa memasukkinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

Adapun tujuan utama yang ingin dicapai dalam berhaji adalah menjadi haji mabrur. Orang yang mendapatkan haji mabrur akan menjadi orang yang mempunyai sifat rahmatan lil alamin, setidaknya untuk masyarakat di sekitarnya. Tingkah laku dan perbuatannya memberikan manfaat kepada manusia di sekelilingnya. Sedekahnya semakin banyak, silahturahminya semakin luas, dan kasih sayangnya kepada sesama semakin kuat.

Dari semua ibadah wajib di atas, pada dasarnya diperintahkan Allah kepada manusia agar bisa mengadakan interaksi dengan Allah (habluminallah) dan berinteraksi dengan manusia lainnya (habluminanas). Akibat hubungan baik dengan Allah (habluminallah) akan berdampak pada hubungan dengan manusia (habluminanas) yang tinggi.

Sholat wajib diperintahkan untuk dijalankan berjamaah agar kita bisa bersosialisasi dan berinteraksi antara sesama muslim, puasa Ramadhan supaya kita merasakan penderitaan orang lain yang kurang mampu, zakat agar kita berbagi harta dengan fakir miskin, dan haji dimaksudkan supaya manusia menyadari bahwa darimanapun asalnya dan apa pun tingkat status sosialnya, mereka tetap sama di hadapan Allah.

Jadi semua ibadah wajib tersebut selalu berhubungan dengan manusia lain sedangkan ibadah yang khusus dimaksudkan untuk “bermesraan” dengan Allah telah disediakan melalui ibadah sunah. Sholat sunah tidak perintahkan berjamaah, hanya dilakukan sendiri. Misalnya sholat tahajud, Allah perintahkan dilakukan di waktu malam supaya terjadi hubungan yang lebih mesra dengan Allah karena jauh dari gangguan duniawi.

Begitu juga dengan ibadah sunah lainnya seperti sedekah, infaq, puasa sunah dan umrah. Ketika kita melakukan semuanya itu dengan penuh keikhlasan maka Allah akan menilainya sebagai bentuk cinta kita kepada-Nya. Sebab dalam ibadah sunah tidak ada paksaan untuk mengerjakannya, tapi bagi yang mengerjakannya akan dicintai oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *