Jihad Literasi

Problematika umat tidak akan ada habisnya dan untuk itu dibutuhkan upaya terus-menerus untuk memikirkan kondisi umat. Tentu ada berbagai faktor baik internal maupun eksternal terkait berbagai problematika umat dan itulah yang harus terus kita telaah sembari diupayakan berbagai solusinya.

Ambil contoh kecil problematika yang bisa terjadi karena kebodohan. Kebodohan dalam arti tidak menerima kebenaran dari Allah maupun memerangi ayat-ayat Allah. Ada banyak penjelasan dari Al-Qur’an maupun hadis mengenai perilaku tercela ini, begitu juga dengan kemiskinan yang masih umum menjadi problematika umat.

Dalam skala yang lebih luas, seperti juga kebodohan, kemiskinan bisa dalam arti miskin harta, kemiskinan dalam ilmu, ketiadaan izzah untuk memperjuangkan agama Allah, hingga tidak adanya spirit untuk membela Islam. Maka tawaran pemikiran yang sangat urgent menyikapi problematika umat ini adalah dengan apa yang bisa kita sebut dengan “jihad literasi”.

Jihad literasi tentu saja bukan hanya sekadar bagaimana mengajarkan umat untuk bisa membaca dan menulis. Lebih dari semuanya itu, literasi merupakan jendela dunia dan jendela akhirat karena melalui literasi kita bisa mengolah dan memahami informasi ketika membaca, menulis, dan mengambil hikmah untuk menjadikannya kebiasaan perilaku dan budaya dalam kehidupan sosial, politik, dan agama.

Ajaran Islam sendiri mulai dari apa yang ada pada Al-Qur’an dan hadis dan karenanya kemampuan membaca, menulis, maupun menghapal sangat dibutuhkan. Namun bagaimana umat bisa memberikan keteladanan khususnya dari berbagai ayat yang terkandung pada kitab suci bisa menjadi cerminan dari perilaku kehidupan sehari-hari kita.

Menurut penelitian dari UNESCO, Indonesia berada di urutan kedua dari bawah atau menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat literasi. Minat baca masyarakat Indonesia begitu memprihatinkan, hanya 0,001 persen yang memiliki minat literasi. Ini artinya dari seribu orang di Indonesia hanya satu orang yang memiliki minat dalam hal berliterasi dan ini ukuran yang sangat rendah untuk budaya literasi orang Indonesia.

Penyebab rendahnya minat dan kebiasaan berliterasi itu karena kurangnya akses terutama untuk masyarakat yang berada di daerah terpencil. Ini juga yang terungkap dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Fakta ini juga menjadi ancaman besar bagi umat Islam, padahal anjuran untuk berliterasi menjadi perintah pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

Begitu vitalnya literasi dalam membangun sebuah peradaban hingga Allah abadikan di dalam Al-Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al Alaq: 1-5)

Allah SWT sangat menganjurkan hambanya untuk mampu berliterasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis buku namun juga harus mampu membaca kondisi lingkungan sekitar, membaca problematika yang ada di sekitar kita, bahkan membaca diri kita pribadi guna membangun daya analisis yang lebih kritis.

Untuk meningkatkan literasi masyarakat harus ada korelasi antara akses dengan kebiasaan. Jika tidak ada akses bagaimana masyarakat Indonesia bisa membaca? Para pegiat literasi melihat bahwa minat baca orang Indonesia cukup tinggi tapi itu potensi yang belum mewujud jadi perilaku, kebiasaan, dan budaya.

Dengan jihad literasi menjadikan umat Islam cerdas dan menyadari eksistensinya dan menjadi banyak bertanya. Bukan hanya bertanya tapi juga bisa memikirkan kenapa umat Islam banyak yang masih miskin. Dengan literasi yang memadai umat Islam bisa bertanya, kenapa sebagai umat terus menerus dimiskinkan? Hal ini yang kemudian bisa memantik seseorang untuk berbuat dan memikirkan langkah nyata untuk bisa keluar dari nasib demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *