Menabung merupakan akitivitas yang sangat penting terkait pengelolaan keuangan. Hanya saja yang harus diingat, bedakan menabung dengan menimbun atau menumpuk kekayaan. Kendati terlihat sama, menumpuk kekayaan berarti kita tidak mengaktifkan hart akita dan dalam pandangan Allah ini merupakan salah satu dosa.
Karena itu untuk mudahnya bisa diatur seperti ini: untuk berbagai pengeluaran rumah tangga sehari-hari kita harus mengeluarkan, katakan Rp10 juta, maka kita boleh memiliki tabungan yang sifatnya buffer untuk pengeluaran rutin Rp10 juta per bulan ini sekitar Rp30 juta. Jadi dengan pengeluaran Rp10 juta per bulan kita memiliki buffer tiga kali dari kebutuhan bulanan untuk keamanan.
Tentu kita boleh memperbesar terus tabungan namun yang harus dipastikan jangan sampai tabungan itu hanya menjadi penumpukan. Yang boleh, bila kiita memiliki niat untuk mewujudkan sesuatu, misalnya untuk renovasi rumah yang tentunya membutuhkan biaya besar, itu baru boleh menabung untuk persiapan renovasi tersebut.
Begitu juga tabungan untuk berbagai niat yang lain, misalnya biaya pendidikan, membeli kendaraan, atau bahkan persiapan dana untuk berlibur bersama keluarga. Menabung untuk membeli kontrakan yang diniatkan supaya memiliki passive income juga boleh dipersiapkan, sekali lagi yang penting ada tujuan yang dilandaskan berdasarkan niat yang baik dan bukan untuk menimbun.
Menabung juga bisa dan boleh untuk menjalankan bisnis yang akan dilakukan. Misalnya sebuah usaha fotokopi membutuhkan biaya investasi sebesar Rp300 juta. Dana ini untuk membeli mesin fotokopi, mengontrak tempat atau ruang usaha, dan biaya-biaya lainnya.
Untuk persiapan bisnis ini kita bisa membeli emas (logam mulia) dari uang tabungan yang telah disiapkan. Ada banyak kisah yang menabung dengan logam mulia tiba-tiba harganya naik sehingga bisnis yang akan dijalankan malah bisa dilakukan dengan lebih cepat karena kenaikan harga logam mulia tersebut.
Intinya, orang Islam dituntut produktif dan hartanya juga harus dikelola secara produktif sehingga bisa memberikan dampak yang besar. Menggunakan harta yang kita miliki untuk kegiatan produktif bukan berarti seluruh harta tersebut harus kita kelola sendiri, tentu ada banyak cara untuk “menggerakkan” harta tersebut menjadi lebih produktif ketimbang menjadi angka yang tercantum di dalam buku tabungan.
Menabunglah, dan jadikan itu sebuah kebiasaan. Jadikan menabung dengan landasan niat untuk memudahkan ibadah kita, untuk bisa bersedekah lebih banyak, untuk membuat kehidupan keluarga kita lebihg baik, dan yang sangat penting: untuk membuat harta kita menjadi produktif dan berkah.
