Mengejar Materi-Kebaikan

Seluruh aktivitas kita harus diniatkan untuk beribadah dan mendapatkan keridhan Allah SWT. Maka dari itu dalam hal mencari, mengelola, hingga membelanjakan ataupun menyalurkan materi berupa rezeki yang kita dapatkan, semuanya dalam rangka ibadah kepada Allah.

Maka saat menyalurkan ataupun membelanjakan rezeki tersebut, harus diperhatikan niat kita. Apakah yang kita belanjakan itu memang dibutuhkan atau terselip keinginan yang sifatnya duniawi bahkan bisa menghadirkan kebanggaan diri yang semu dan berujung pada sifat riya? Muslim yang baik harus bisa memahami bedanya kebutuhan dengan keinginannya.

Membeli kendaraan misalnya, ini bisa menjadi kebutuhan primer untuk menunjang aktivitas kita dalam mencari rezeki maupun bersilaturahmi. Tapi terkait pemilihannya, kita bisa terjebak pada situasi membeli di atas fungsi dengan terpaku pada brand tertentu untuk menonjolkan style kemewahannya.

Membeli kendaraan dengan brand biasa memiliki fungsi bahkan kenyamanan yang sama. Tapi karena gengsi membuat kita memaksakan diri membeli kendaraan dengan brand Eropa kendati bukannya tidak boleh. Bila kebutuhan dan kemampuan cocok tentunya tidak ada masalah, hanya saja kita sering memaksakan diri karena tidak memahami antara kebutuhan dan keinginan.

Orang yang haus hanya membutuhkan cukup air! Konsep seperti ini harus terus dilatih karena dunia kita kerap mengutamakan penampilan yang membuat hati kita semakin bias saat harus menentukan antara kebutuhan dan keinginan.

Falsafah ini bukannya menghalangi untuk memiliki barang luxurious karena orang Islam juga sangat baik untuk menjadi kaya raya, dalam arti perekonomiannya maju sehingga diharapkan bisa terus menghadirkan perubahan di tengah situsi keterpurukan kita sebagai umat.

Kita harus terus bergerak untuk menjadi umat yang unggul dengan memegang mayoritas perekonomian dan itu harus disadari oleh seluruh umat Islam dan untuk itu sangat penting bagi kita menjadi kaya raya secara materi tanpa harus kita menjadi hamba terhadap materi tersebut.

Terkait kekayaan ini ada banyak aktivitas yang bisa memicu keberkahan seperti disitir dalam Al Qur’an:

“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195).

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 6).

“Barangsiapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

“Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-A’raf: 56).

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri” (QS. Al-Isra’: 7).

Jadi sangat jelas dan harus terus ditumbuhkan di dalam hati, sesungguhnya kebaikan yang kita sebarkan itu akan kembali ke diri kita. Ini seperti memainkan bola pingpong yang setiap kali kita memukul bola akan selalu kembali kepada kita. Begitu juga dengan keburukan yang kita perbuat juga akan kembali kepada kita.

Bila kita telah meyakini kalau segala sesuatu akan kembali kepada kita, maka sangat bodoh kalau ada kebaikan dan kita tidak bersemangat untuk melakukannya. Selain itu ada banyak kebaikan yang dilakukan tanpa membutuhkan materi, senyum adalah kebaikan yang memancarkan aura positif. Selain baik untuk kita, aura positif akan menular ke orang lain dan akan baik juga untuk lingkungan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *