Ada seorang pensiunan tentara pada jamaah masjid di dekat rumah yang bercerita, beliau pernah ngobrol dan bertanya dengan seorang tentara Israel sewaktu bertugas sebagai atase militer di Negara Mesir.
Ia bertanya kepada tentara Israel tersebut: mengapa negara Israel yang kecil bisa ditakuti banyak negara di sekitar Arab? Si Israel menjawab, negara kami kuat karena menerapkan Al Qur’an sementara orang Islam membuang kitab sucinya tapi kami yang mengambil dan menerapkannya.
Cerita itu diteruskan, banyak dari pemimpin Yahudi dan orang-orang terpelajar kami senantiasa membaca AL Qur’an. Apakah kamu punya Al Qur’an di rumah? Nanti setelah sampai di rumah, kamu baca Al Qur’an Surat Al Anfal Ayat 60, surat itu yang kami amalkan.
Setiba di rumah berlekas diambil dan dibuka Al Qur’an sesuai yang dikatakan si tentara. Begitu dibaca Surat Al Anfal Ayat 60, langsung wajah terasa ditambar karena malu dan merasa berdosa kepada Allah SWT.
“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi” (QS Al Anfal: 60).
Al Anfal Ayat 60 merupakan pesan Allah tentang konsep bernegara yaitu untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan negara yang menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi semua warga. Mengandung pesan penting tentang perdamaian, ayat ini juga menjelaskan jika musuh menunjukkan keinginan untuk berdamai maka Nabi Muhammad diperintahkan untuk menyambut dengan penuh ketulusan.
Sungguh, Allah telah memerintahkan kepada kita tapi kita tidak pernah turuti perintah-Nya. Nabi Muhammad selama di Madinah, harus diakui beliau seorang Rasul tapi juga seorang pemimpin Kota Metropolitan Madinah yang setingkat gubernur. Artinya, Nabi Muhammad setiap saat selain membimbing umat juga melaksanakan banyak kegiatan politik.
Hanya saja politik yang dijalankan Nabi Muhammad adalah politik yang diajarkan oleh Allah SWT. Salah satu politik Nabi Muhammad adalah politik dakwah. Saat Kota Madinah sudah aman dan sejahtera, Nabi Muhammad pernah bersurat kepada Kaisar Heraclius, pemimpin besar Roma, padahal saat itu Roma adalah penguasa dunia.
Surat Nabi Muhammad hanyalah mengajak kaisar untuk memeluk Agama Islam, tapi dari sudut pandang politik dan kekuasaan sangat besar maknanya. Dan, surat Nabi Muhammad sangat mendapatkan perhatian dan pembahasan di dalam kerajaan.
Politik Islam tidak hanya urusan merebut kekuasaan sematan, tapi ada tanggung jawab dakwah Islam untuk seluruh alam. Dakwah itu untuk memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, membangun paradaman, perdamaian, dan keamanan dunia.




