SAKIT

Banyak manusia lupa diri saat sedang sehat. Mereka lupa bahwa kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang tidak ternilai setelah nikmat iman dan Islam. Lupa diri dalam arti tidak ada rasa Syukur yang diungkapkan atau dinyatakan kepada Allah. Padahal menyia-nyiakan nikmat sehat sama juga dengan berbuat kemaksiatan.

Kalau mau berpikir, sedikit saja Allah ambil nikmat tersebut, pasti akan membuat kita menderita. Contohnya, ketika sedang berjalan lalu ada sebuah butiran pasir yang masuk ke salah satu mata kita, pasti terasa sakit dan perih. Kalau butiran yang masuk banyak mungkin bisa merusak kornea yang menyebabkan buta, bagaimana rasanya?

Ini baru nikmat sebelah mata saja, bagaimana kalau yang buta kedua mata kita? Mungkin kita akan langsung putus asa. Berbagai kenikmatan seperti ini yang sering disepelekan manusia. Sakit bisa diartikan sebagai jalan menuju kematian, tapi bisa juga sebagai pengingat dari kemungkaran manusia.

Kita bisa belajar dari kisah ini. Seorang Ayah yang mengurusi anaknya yang sakit hingga meninggal. Tapi, kematian anaknya dihadapi dengan ikhlas dan pasrah kepada Allah. Ia mengganggap itu sebagai jalan yang terbaik dari Allah.

Kisah kedua, seorang bapak yang berusaha mengobati anaknya yang sakit melalui dukun. Ia percaya hanya dukun yang bisa mengobati penyakit anaknya, meskipun akhirnya nyawa si anak tidak bisa diselamatkan. Setelah anaknya meninggal, bapaknya malah menjadi gila.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kedua kisah tersebut, bila kita memaknai sakit dengan berserah diri kepada Allah maka hati kita akan tenang. Tetapi bila kita menjauh dari Allah, hati kita akan depresi bahkan bisa membuat gila. Kita lupa bahwa semua yang kita nikmati adalah milik Allah dan Allah berhak untuk mengambilnya kapanpun.

Allah berfirman: “Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 2)

Pada ayat yang lain: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

Sakit bisa terjadi karena ulah manusia (kezalimannya) dan sesama manusia. Contohnya seseorang yang ingin bunuh diri dengan meminum racun sehingga saluran pencernaannya menjadi rusak atau seseorang yang melukai orang lain sehingga menjadi infeksi dan berakibat cacat.

Tetapi, sakit itu juga merupakan ujian atau teguran karena kasih sayang Allah kepada seseorang dan orang tersebut merasa hal tersebut merupakan ujian dari Allah yang harus dimaknai sebagai sarana untuk menguatkan dan meningkatkan keimanannya kepada Allah. Yang demikian ini biasa terjadi kepada orang-orang yang beriman, misalnya Nabi Yakub yang mengalami sakit kulit yang dengan sakitnya malah semakin dekat dengan Allah.

Kemudian Allah menghilangkan seluruh penyakit kulit yang dideritanya. Inilah suatu tingkat pengharapan tertinggi dari para nabi yang bisa kita lihat dari para nabi tersebut. Atau itu merupakan ujian dari Allah untuk menggugurkan atau menghapuskan dosanya. Atau sakit juga bisa merupakan azab Allah. Contohnya adalah sakitnya orang yang tidak berkepanjangan.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka, Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Sedangkan sakit yang diderita seorang mukmin akan menjadi obat yang akan mengurangi dosa-dosanya selama ia ikhlas menerima sakitnya. Seperti dikatakan dalam hadits Rasulullah SAW: Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kapan pun seorang muslim diuji dengan penderitaan dari penyakit maupun yang semisalnya, Allah akan mengangkat dosa-dosanya dikarenakan hal itu, seperti sebuah pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi orang beriman, sakit menjadi sebuah kesempatan untuk menghapus dosa-dosanya. Dan sakit dianggap sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadanya karena bila itu suatu hukuman baginya, berarti Allah telah mempercepat hukumannya di dunia sehingga hukumannya di akhirat telah gugur.

Anas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan siksanya di dunia, dan bila Allah menghendaki kejelekan bagi hamba-Nya, Allah akan menahan siksa-Nya atas dosa-dosanya, hingga akan dibalas pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Hadits lain mengatakan, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda,

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan hikmah sakit sebagai teguran atau hukuman diberikan Allah kepada mereka yang senantiasa berbuat maksiat atau suka menganiaya diri sendiri. Misalnya seorang yang suka melakukan zina, kemudian Allah timpakan kepadanya penyakit aids. Atau orang yang suka minum minuman keras, diberikan Allah penyakit liver.

Ada dua tipe manusia dalam menghadapi hikmah sakit seperti ini. Tipe pertama, mereka mendapat hidayah dari sakitnya dan menyadari sakitnya sebagai teguran Allah lalu ia bertaubat kepada Allah SWT. Mereka akan mensyukuri sakitnya sebagai jalan kembali kepada Allah. Sementara tipe kedua, mereka tidak menerima penyakitnya tapi malah menyalahkan Allah sebagai penyebabnya. Tipe seperti ini akan melakukan apa saja untuk menyembuhkan penyakitnya termasuk pergi ke dukun atau paranormal.

Maka maknailah setiap penyakit yang menimpa kita sebagai kasih sayang Allah kepada kita. Renungkan kembali apakah sakit tersebut memang karena ujian Allah atau disebabkan kesalahan kita. Jangan sedikit pun berburuk sangka apalagi sampai menyalahkan Allah. Karena pada hakikatnya kita tidak tahu apa maksud Allah sebenarnya memberikan sakit kepada kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa apa yang kita anggap baik, belum tentu baik untuk Allah. Tapi, segala sesuatu yang baik menurut Allah, pasti baik untuk kita. Begitu juga dengan sakit, bisa jadi sakit membawa kebaikan untuk kita. Mungkin saja dengan diberi sakit kita jadi lebih dekat dengan Allah. Kita semakin menyadari bahwa nikmat sehat itu sangat mahal sehingga kita harus selalu mensyukurinya.

Sementara kalau Allah selalu memberi sehat bisa jadi justru membuat kita lupa kepada Allah dan selalu berbuat maksiat. Untuk itu dalam kondisi sehat maupun sakit kita harus selalu ingat Allah. Selalu berpikir positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *