Salah satu syarat sahnya iman seseorang adalah harus percaya akan adanya takdir. Di dalam Rukun Iman disebutkan percaya kepada qodlo dan qodar, yang dalam masyarakat Indonesia keduanya berarti takdir. Secara syariat, para ulama sepakat mengartikan takdir sebagai suatu ketetapan Allah yang telah ditentukan, sebelum diciptakan sesuatu yang tercatat pada “Lauhul Mahfudz” yang berkenaan dengan nasib dan perjalanan hidup seseorang.
Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS. An-Naml: 75)
Namun pengertian takdir di atas menurut para ulama kaitannya dengan takdir mutlak, seperti jodoh, mati, dan rezeki seseorang yang telah ditentukan Allah. Sementara pengertian takdir yang selain takdir mutlak, pandangan ulama-ulama dulu membaginya dalam tiga golongan (paham) yaitu golongan Jabariyah, golongan Qodariyah, dan golongan Ahli Sunah Waljamaah.
Golongan Jabariyah berpendapat bahwa takdir adalah keputusan Allah. Baik dan buruk nasib seseorang ditentukan sepenuhnya oleh Allah, tanpa manusia bisa berupaya dan mengganti keadaan tersebut. Di sini manusia dituntut untuk pasrah terhadap ketentuan yang telah diberikan Allah.
Banyak dalil-dalil dari Al Qur’an maupun hadits yang dijadikan hujjah (argumentasi). Dalam pandangan golongan ini, manusia diibaratkan seperti wayang yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dalang. Jadi, semua gerak hati, pikiran atau fisik manusia dikendalikan oleh Allah SWT. Semua yang akan terjadi terhadap manusia sudah dituliskan Allah di dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).
Seperti yang tertulis dalam firman Allah: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam ktiab (Lauhul Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Sementara golongan Qodariyah berpendapat bahwa nasib dan takdir seseorang ditentukan oleh seberapa besar usaha orang tersebut, tanpa ada intervensi dan keikutsertaan Allah terhadap perjalanan hidup seorang hamba. Golongan ini juga punya argumentasi yang ditopang oleh Al Qur’an dan hadist yang shahih. Intinya, semua yang terjadi tergantung pada manusia. Ada yang beranggapan golongan ini termasuk mu’tazilah karena pandangannya lebih berorientasi kepada logika. Allah dianggap tidak lagi berperan dalam penentuan takdir manusia.
Sedangkan golongan ketiga yaitu Ahli Sunah Waljamaah berpendapat bahwa Allah telah menetapkan nasib dan takdir seseorang, namun manusia tetap dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan dan kondisinya, dan perubahan itu bisa diupayakan atas kuasa Allah dan ridho-Nya, meski nasib dan suratan takdir telah tertulis. Golongan ini menggabungkan pendapat golongan Jabariyah dan Qodariyah.
Pendapat ulama Ahli Sunah Waljamaah ini berdasarkan firman Allah: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum maka tak ada yang dapat menolaknya. Dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Dari ayat di atas, tergambar bahwa sesungguhnya ada kesempatan manusia untuk mengubah takdirnya, tinggal bagaimana usaha manusia tersebut untuk mengubahnya. Disini, faktor manusianya (internal diri) mempunyai peran di dalam mengubah dan menentukan takdirnya.
Terlepas dari ketiga pendapat di atas, pendapat golongan Ahli Sunah Waljamaah bahwa takdir manusia itu dipengaruhi oleh faktor internal (dalam dirinya) dan eksternal (di luar dirinya). Pendapat ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah kecuali orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR Bukhari)
Hadits ini menegaskan meskipun Allah menciptakan manusia dalam keadaan Islam, tapi setelah lahir faktor eksternal, yaitu kedua orangtua mereka atau orang-orang di sekelilingnya berpotensi mengubahnya menjadi bukan Islam, yang mengubahnya menjadi bukan Islam.
Pernyataan bahwa setiap manusia lahir sebagai muslim ini diperkuat oleh firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).’” (QS. Al-A’raf: 172)
Meskipun takdir manusia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun kedudukan Allah harus ditempatkan kepada kebaikan. Banyak yang menyikapi takdir dengan “menyalahkan” Allah dengan mengatakan semua yang terjadi pada dirinya merupakan ketetapan Allah.
Padahal setiap kebaikan datangnya dari Allah sedangkan setiap keburukan datangnya dari sisi manusia sendiri. Seharusnya yang disalahkan adalah dirinya sendiri. Al Qur’an menyebut: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Jadi, tidak ada alasan untuk menyalahkan Allah denga napa yang menimpa pada diri kita. Allah telah menyatakan dengan jelas kalau Dia sangat murka dengan orang-orang yang berbuat kerusakan. Berbagai kemaksiatan maupun dosa yang kita lakukan pada dasarnya adalah aktivitas kita dalam berbuat kerusakan yang Allah benci itu.
Maka menyikapi takdir tidak boleh menyalahkan Allah tapi bercerminlah pada diri sendiri. Bertobatlah dan yakinlah pada pertolongan Allah untuk mengubah segala kerusakan yang terjadi pada diri kita menjadi lebih baik. Berpeganglah pada firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11, bahwa Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk mengubah nasibnya. Dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat.
Allah berfirman: “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman, sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’raaf: 153)
