Secara bahasa, nyaris artinya tidak atau belum kejadian. Maka nyaris miskin artinya tidak jadi miskin begitu juga dengan nyaris kaya yang artinya tidak jadi kaya. Sama halnya dengan nyaris menang, nyaris juara, nyaris berhasil, nyaris gagal, nyaris kalah, hingga nyaris mati.
Menjadi menarik kata nyaris ini dalam sebuah hadis: Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti halnya orang-orang yang menyerbu makaman di atas piring. Seseorang berkata, apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau (Rasulullah) bersabda, bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya, apakah wahn itu? Beliau menjawab, cinta dunia dan takut mati (HR Ahmad, Al Baihaqi, Abu Dawud).
Maka begitulah tafsir yang bisa ditangkap dari hadis tersebut yang di satu sisi membuat kita optimsistis kalau kondisi ataupun wajah umat Islam tidak akan seperti yang digambarkan hadis tersebut sebab masih ada orang-orang yang konsisten berjuang di jalan Allah.
Tapi di sisi lain bila melihat realitas di sekitar, ada kalanya penyakit cinta akan dunia dan takut mati masih merasuk di jiwa-jiwa kita. Ini terlihat dengan adanya perpecahan dan konflik di dalam tubuh umat Islam sehingga mengecilkan umat itu sendiri. Umat Islam sering kali disibukkan dengan pertengkaran antar sesama saudara muslim.
Mungkin saja apa yang menimpa umat ini merupakan ujian agar kita menjadi umat terbaik seperti zaman rasul dan sahabat. Bukankah Rasulullah SAW, dinukil dari HR Tirmizi dan Ibnu Majah berpesan, bahwa seorang hamba akan diuji sebanding dengan kualitas agamanya.
Apabila agamanya begitu kuat maka semakin berat pula ujiannya dan sebaliknya jika agamanya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa. Beragam problematika umat memang masih mengadang baik di tingkat glolab maupun lokal dan itu menggambarkan potret problematika umat.
Kondisi umat saat ini kian mengkhawatirkan dengan banyaknya permasalahan di dalam negeri maupun berbagai masalah yang menimpa kaum muslim di berbagai belahan dunia. Belum kering luka melihat duka di Palestina, bom di mana-mana, anak kecil dikubur hidup-hidup, darah di mana-mana dan tidak ada satupun negara yang berani membela.
Padahal umat Islam ada di lebih 57 negara dunia yang jika dikumpulkan populasinya mencapai lebih dari 2 miliar penduduk muslim. Situasi ini tepat dengan gambaran hadis yang menyebut umat Islam seperti buih, yang banyak tapi tidak mampu memberikan arti. Banyak tapi hanya bisa menjadi penonton, hanya menjadi obyek dan bukan subyek.




