Was-Was


Setan tidak pernah berhenti menggoda manusia sebelum manusia mengikuti kemauannya. Salah satu tipu daya setan adalah ditanamkannya rasa was-was pada diri manusia. Dengan sikap was-was ini setan berharap manusia bisa digelincirkan untuk meminta perlindungan kepadanya, melalui dukun atau paranormal.

Sebagai contoh, saat akan menikah seseorang dibuat cemas apakah setelah menikah penghasilannya bisa cukup menghidupi istrinya. Lalu setelah menikah mereka dihantui rasa was-was, apakah bisa mempunyai keturunan. Kemudian ketika sudah hamil ditiupkan lagi kekhawatiran, apakah anaknya bisa lahir normal atau justru cacat. Dan ketika sudah lahir normal kembali dibisikkan hatinya kecemasan tentang masa depan anak, apakah ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, sekolahnya, dan lainnya.

Setan akan selalu meniupkan rasa was-was di hati manusia. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, di hati manusia dicemaskan dengan ancaman-ancaman yang mungkin terjadi. Seperti kekhawatiran ditabrak mobil saat bersepeda, ketakutan muncul gempa saat sedang tidur lelap, kecemasan tertular penyakit, dan bermacam kekhawatiran lainnya.

Semua ancaman itu seakan mau menimpa kita sehingga kita selalu was-was, tidak pernah bisa tenang. Seakan-akan di dunia ini sudah tidak ada lagi tempat aman. Semua kemungkinan kejadian tersebut memang sebenarnya perlu kita pikirkan, tapi bukan untuk membuat kita selalu cemas, melainkan agar kita waspada.

Setiap kekhawatiran itu tetap berpotensi menimpa kita, maka tetap perlu dipikirkan untuk membuat kita waspada dan tidak lupa. Karena di dalam kehidupan ini segala sesuatu bisa terjadi secara tiba-tiba, maka tinggal bagaimana kita menghadapinya.

Di dalam Al Qur’an Allah telah mengingatkan kepada manusia agar menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Allah lah yang Maha Pemberi Keamanan. “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Mahasuci, yang Mahasejahtera, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr: 23)

Di ayat lain, Allah menegaskan bahwa segala kejadian yang akan terjadi di bumi maupun pada diri kita, telah dituliskan Allah di dalam kitab Lauhul Mahfuzh sehingga manusia tidak akan mungkin bisa mencegahnya,

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).

Maka kita harus percaya dan yakin kepada takdir Allah dan untuk itu kita memohon perlindungan serta berserah diri hanya kepada Allah. Hanya Allah yang bisa memberi keamanan kepada kita dan tanpa keyakinan terebut hati kita akan selalu gelisah, cemas, dan was-was.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *