Dalam penentuan awal bulan Ramadan kita hampir selalu berbeda atau selisih khususnya antara ormas keagamaan Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan terjadi karena dua cara pandang ataupun penghitungan menggunakan hilal (rukyat) dan hisab yang memang berbeda secara metodologinya.
Rukyat adalah sebuah pengamatan langsung bulan sabit muda (hilal) menggunakan mata telanjang maupun alat di ufuk sementara hisab perhitungan matematis atau astronomis untuk menentukan posisi bulan. Artinya, rukyat fokus pada visibilitas sementara hisab pada posisi teoritis.
Dua metode ini yang digunakan di Indonesia untuk menentukan bulan Ramadan bahkan bulan-bulan lainnya termasuk waktu-waktu sholat. Kedua metode memiliki dasar keilmuan dan landasan syariat yang sama-sama diakui. Ini juga berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan umat Islam berpuasa ketika melihat hilal dan berbuka ketika melihatnya.
Kembali ke Indonesia dan kenapa kita kerap berbeda? Sebelum era kemerdekaan atau orang-orang tua dulu, penentuan kapan mulai berpuasa mengandalkan kalangan ulama yang memang dihormati dan diakui keilmuannya di setiap daerah. Bahkan ulama juga tahu kapan terjadinya gerhana karena memang memahami ilmu falak, sebuah disiplin ilmu yang mempelajari posisi, pergerakan, hingga lintasan benda langit.
Pada era tahun 1960-an pemerintah masuk dan mulai mengatur penentuan bulan Ramadan dan lainnya. Mengatur yang sifatnya mengordinasi, karena pemerintah menampung seluruh ormas keagamaan yang menentukan awal bulan Ramadan. Dalam perjalanannya, kita seperti tidak belajar terkait mekanisme perhitungan dengan kedua metode ini.
Zaman Nabi Muhammad dulu, perhitungan awal Ramadan hanya mengandalkan “melihat”. Dulu melihat menggunakan mata tapi sekarang ada alat berupa teropong yang bisa melihat sangat jauh dan presisi ditambah metode penghitungan maupun teknologi yang jauh lebih canggih.
Al Qur’an sendiri banyak memberikan indikasi terkait mekanisme perhitungan astronomi seperti ini. Dengan didahului melihat kita bisa menghitung. Mekanisme ini sangat penting karena Indonesia negara tropis yang hampir selalu tertutup awan sehingga bila mengandalkan melihat langsung akan sulit.
Dalam konteks inilah semestinya pemerintah selain merangkul seluruh ormas bisa “mengambil alih” mekanisme penentuan awal Ramadan. Caranya dengan memfasilitasi tim untuk pergi ke daerah-daerah yang awannya lebih sedikit dengan berbekal alat yang lengkap sehingga bisa dilihat kemudian dihitung.
Setiap hari, minggu, bulan dibuat perhitungannya dengan menggunakan video baik saat musim hujan ataupun kemarau sehingga setiap daerah bisa terwakili. Konsep ini juga ke depannya bisa menjadi center atau pusat-pusat pendidikan falak yang semuanya bisa ikut belajar.
Dalam periode 12 bulan atau ditambah 24 bulan pengelihatan-perhitungan itu akan muncul penentuan tanggal yang pasti untuk kita gunakan. Dan, setelah seluruh wilayah yang mewakili dilihat-dihitung, dilihat horizon atau cakrawala menggunakan alat tercanggih, metode ini akan jadi panduan yang bisa berlaku ratusan tahun ke depan.
Masyarakat China ribuan tahun lalu sudah bisa memperhitungkan metode seperti ini untuk menentukan masa panen, termasuk nabi-nabi seperti Nabi Isa yang juga pernah memperhitungkan ilmu falak. Lebih jauh lagi Nabi Idris yang memang dikenal dalam tradisi Islam sebagai manusia pertama yang menguasai dan mengajarkan ilmu falak termasuk matematika (perhitungan) dan menulis menggunakan pena.
Sayangnya, di negeri ini “ilmu pasti” seperti perhitungan waktu awal bulan Ramadan saja harus dijalankan menggunakan pendekatan proyek sehingga hal ini menjadi agenda rutin tahunan berbiaya miliaran.
